Remah-Remah Rasa. [sebuah cerpen lagi]




Mungkin ini terdengar aneh dan anggap saja diriku ini orang yang aneh. Dibalik buku tebalku yang membentuk piramida kecil, dibalik poni yang menutupi dahiku, aku mungkin satu-satunya orang yang selalu berada di dekatmu, namun kau tak pernah menyadari itu. Klise seperti pengagum rahasia yang lain, memang. Tapi sungguh aku hanya bisa berada di posisi ini. Detak ini terdengar sayup dan hanya aku saja yang dapat mendengarnya yang semakin lama semakin meronta ingin menemukan medan kuat yang telah menariknya. Tetapi aku hanya bisa sembunyi. Aku hanya bisa berada dalam radius beberapa meter dari dirimu lantas hanya memandangimu dalam diam. Tak jarang aku pun ikut tertawa ketika kau menertawakan segala hal yang kadang tak ku pahami. Aku menyadari satu hal, senyum dan tawamu begitu menular dengan cepat.
Aku tak akan menuntut lebih, mungkin aku egois, tetapi sekali ini saja biarkan aku tetap seperti ini hingga perasaan ini meluntur dengan sendirinya. Apabila kau mendengar hatiku berbicara, tolong jangan mencintai gadis lain. Aku mengerti akan kepopuleranmu, tetapi aku ingin agar kau tetap seperti ini dan tidak berhubungan dengan siapapun sampai perasaan ini menghilang perlahan dan kemudian lenyap hingga tak ada tersisa lagi untukmu.
Aku tahu aku sungguh egois, aku membiarkan diriku bahagia hanya dengan melihatmu dari kejauhan dan tidak dengan dirimu yang mungkin akan mengaggapku aneh apabila kamu mengetahuinya. Aku rasa sekarang aku sudah seperti seorang penguntit. Aku bahkan tahu bagaimana dirimu membunuh waktu dan menghabiskan waktu senjamu dengan membaca buku di balkon kamarmu. Aku nyaris tahu semua tentangmu, tapi sayang, kau tidak mengenalku sama sekali padahal kita tinggal berdekatan.
“Rima, bawain keripik durian nih buat tetangga depan rumah. Tadi Bunda kelupaan. Bilang aja oleh-oleh dari Thailand,” pekik Bunda dari dapur yang masih sibuk menyiapkan makan malam. Tubuhnya dibalut dengan apron bermotif bunga.
“Tetangga yang mana, Bun?”
“Itu loh yang anaknya satu sekolah sama kamu.”
Deg. Serius? Gue harus ke rumah Damar sekarang? Demi apa?.
Aroma petrikor yang kuat menusuk indra penciumannya. Tadi siang hujan turun dengan derasnya, membasahi tanah, aspal dan tanaman. Kubangan air pada aspal depan rumah tercetak jelas menjadi seperti cermin. Aku melihat pantulan diriku yang tegang dan merasakan tanganku semakin dingin seperti mengenggam es. Aku gugup.
Saat berda di depan pintu, jutaan kepingan perasaan menyelubungi hatiku. Bahkan aku tak bisa mengidentifikasi satu per satu dari kepingan itu. Ingin rasanya aku berbalik dan kembali ke rumah saja. Membawa pulang keripik durian lantas memberikannya kepada Bunda. Saat ini jantungku seperti kembang api yang meletup-letup ke angkasa dan menjerit dengan keras. Semburat rasa yang sering diriku alami, namun yang sekarang efeknya dahsyat seperti gelombang tsunami yang datang tanpa tanda yang berarti. Datangnya tiba-tiba dan dampaknya tak perlu dipertanyakan lagi.
            Aku menghirup udara yang tercampur dengan tanah basah itu sebanyak mungkin. Tenggorokanku mulai mengering seperti musim kemarau, berbanding terbalik dengan langit yang dibalut awan abu-abu tebal. Setelah tanganku dengan kaku mengetuk pintu kayu bermotif ukir di depanku, aku memejamkan kedua mataku sambil menghela nafas. Saat itu juga pintu terbuka. Membawa seseorang berkaos merah marun dengan aroma jeruk mandarin, petitgrain, dan amber, khas parfum Bvlgari Aqva. Parfum mahal yang bahkan Ayah saja tak pernah memakainya. Aroma ini tak pernah terlupakan dari indera penciumanku dan sudah menjadi favoritku, karena Damar.
 “Oh, Ada apa? Cari siapa?” tanya Damar penasaran setelah menemukanku berdri di depan pintu rumahnya. Orang asing dengan kantong kresek putih di tangannya.
“Umm.. oleh-oleh da..ri Bunda, kak,” ucapku gugup. Pesona dia masih belum bisa lenyap dari perhatianku. Aku mengulurkan kantong kresek berisi keripik durian kepada Damar.
“Oke thanks ya. Anyway, lo tetangga depan rumah yang satu sekolah sama gue bukan sih? Rima Nandira, bukan?”
Jantungku terasa berhenti berdetak. Aku merasa aliran darahku terhenti. Tanganku yang sedari tadi dingin, menjadi semakin kaku dan tak bisa dirasakan. Lidahku mendadak seperti dibekukan.
“I...Iya kak, benar.”
“Salam kenal ya, Rim. Lain kali kalau ketemu panggil aja, nggak usah sungkan sama gue mah,” katanya.
Sebelum sempat aku menjawab, tiba-tiba muncul seseorang yang dibalut gaun selutut berwarna hijau toska. Ia melingkarkan lengannya pada lengan Damar dan tersenyum manis. Disusul dengan Ibu Damar dengan gaun bermotif batik yang anggun juga.
“Oh nak Rima, ada apa?” sapa Ibu Damar sambil membetulkan letak kacamatanya.
“Ini lho Ma, oleh-oleh dari Bundanya Rima.” Damar mengangkat kantong kresek putih menunjukkan kepada Ibunya.
Owalah, makasih ya nak Rima. Bilangin juga ke Bunda, makasih banyak.” Ucap Ibu Damar. “Ini tuxedo kamu, cepat dipakai. Udah mau hujan ini.” lanjutnya lantas memberikan tuxedo hitam kepada Damar.
Setelah berpamitan, Ibu Damar dan cewek bergaun hijau toska itu berlalu masuk ke dalam mobil. Aku seperti menyaksikan pertunjukan yang membuat dadaku nyeri seketika di depan mataku sendiri.
Mereka pergi. Meninggalkanku bersama air hujan yang beradu dengan air mata. Hatiku seperti digaruk garpu. Aku menyadari jatuh cinta sendirian itu nyeri. Ternyata jatuh cinta diam-diam itu menyakitkan.

[.]


0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.