Drama Korea Goblin : The Lonely and Great God.



Annyeong~

Balik lagi sama gua manusia super gaje yang ngomong sendiri di blog ini. Itung-itung sebagai webdiary gua. Bodo amat orang-orang bilang apa, toh gua nyepam di blog gua sendiri ini.

Yasudah, gua bakal bahas lagi drakor Goblin. Gua cuma mau sedikit cerita aja soal episode 13 yang baru kemarin gua tonton di tengah gulitanya malam yang diiringi dengan rintik air hujan. Kemarin sepulang dari reuni bareng teman-teman SD yang sekarang udah pada gede, gua memutuskan untuk menonton episode keramat ini karena gua udah penasaran abis sebab saat menyaksikan teman gua yang masih ngulek sambel yang bejibun, gua juga sempatin nonton spoiler Goblin di instagram. Makin pengen cepet pulang aja sumpah gara-gara udah kangen sama ahjussi rasa oppa yang katanya bakal jadi debu di episode laknat itu dan ayam bakar yang dibikin juga rasanya rada aneh sih.

Awalnya emang gua tahu kalau bakal jadi begini sebab ini drama udah mau udahan. Dari episode-episode sebelumnya juga si Kim Shin sama malaikat maut udah banyak galaunya, ketimbang becanda kayak dulu. Semua ini emang gara-gara si Park Joong Won yang dari awal dia hidup juga sebenernya udah salah -_____-. Park Joong Won kembali mengambil nyawa Kim Shin untuk kedua kalinya dan gua berharap si guardian itu bakal hidup lagi.

Tbh, gua orangnya nggak gampang yang suka banget sama drama korea. Sebelumnya emang iya, My Girlfriend Is A Gumiho, nah sekarang malah suka banget sama drama ini sampai soundtracknya gua unduh semua terus juga ngikutin di instagram. Biasanya juga kaga kayak gini, heran gua mah.


"I have to disappear to make you smile. This is the decision I have to make. I have to end my life." - Kim Shin


Dengan diiringi soundtrack Ailee - I Will Go To You Like The First Snow, scene itu tuh bikin nangis bombay. Waktu Kim Shin narik pedangnya pake tangan Eun Tak sampai dia jadi abu gini yang bikin mata gua jadi aneh pas bangun pagi. Kim Shin ya emang hilang gitu aja kayak kertas yang dibakar, cuma ini mah bekasnya di hati, bukan di lantai.

Kim Shin bilang walaupun dia udah nggak napak di bumi lagi, tapi dia bakal hadir melalui hujan atau salju pertama yang turun, itu juga kalau Dewa ngijinin Kim Shin. Huhuhuuu makin nyesek.

"You shouldn't make wishes anymore. There's no need for that. I'll stay by your side from now on." - Kim Shin



Nih gua kasih lihat video editan yang gua bikin sendiri sebab saking cintanya sama drama ini :')





Annyeong~
Kali ini saya mau cuap-cuap soal drama korea Goblin yang katanya dapet rating tinggi di negeri yang berhamburan oppa keren itu. Oke langsung aja capcus.

GOBLIN. Bukan sesosok goblin dengan tinggi hanya beberapa inci seperti yang ditampilkan dalam film Harry Potter. Visualisasi goblin disini yaitu seorang ahjussi maskulin yang immortal dengan sebuah kutukan. Layaknya drama korea yang lain, misalnya saja seperti alien dalam My Love From The Star yang ternyata memiliki paras anggota boyband. Goblin juga seperti itu, namun goblin disini lebih dewasa sebab aktor yang berperan adalah Gong Yoo. Dalam instagram doski, para remaja kekinian penghamba drama korea biasa menyebutnya sebagai ahjussi rasa oppa. FYI aja, Gong Yoo juga membintangi film Korea Train To Busan. Sebuah film menegangkan dan membuat air mata saya mengalir seperti air terjun Niagara. Okesip itu berlebihan.

Btw, lidah saya mendadak kelu, oleh karena itu saya akan berganti dengan gua.
Dan ini nih goblin ahjussi rasa oppa yang bikin ngakak setiap episodenya.


Siapa sih yang bisa tahan sama godaan ahjussi berkacamata hitam itu?. FYI nih, ahjussi ini aslinya berusia 37 tahun bro, dan dia masih belum menemukan mempelai wanita untuk bersanding dengannya di pelaminan.
Daripada ngeributin jodoh ahjussi Gong Yoo, mari kita do'akan saja semoga ahjussi segera bertemu dengan jodohnya dan kemudian menikah lantas memiliki anak dan keluarga yang bahagia. Amin.
Ngomong-ngomong soal Goblin nih, jadi doski ini merupakan makhluk immortal yang dulunya seorang prajurit di suatu kerajaan. Gara-gara doski selalu membawa kemenangan di setiap perang, dia malah dianggap sebagai penghianat sama si raja karena hasutan seorang yang jahat yang di dunia modern ini jiwanya masih berkeliaran. Si Kim Shin a.k.a goblin ini dibangkitkan kembali oleh Dewa dengan selarik pedang yang menancap di jantungnya. Tsadest emang, tapi itu kenyataannya. Pedang itu membawanya dalam kehidupan kekal dan kemusnahannya. Jadi sebenernya nggak ada yang bisa lihat pedang itu kecuali si pengantin goblin. Dan takdir lagi-lagi membawa Ji Eun Tak sebagai pengantin Kim Shin. Ji Eun Tak itu yatim piatu yang hidupnya juga tsadest. Doski bisa lihat hantu di sekitarnya, bahkan dia juga bisa lihat malaikat maut loh. Daebak emang.
Nih, si malaikat maut dan ahjussi goblinnya.


Nggak kalah ganteng kan?. Bicara lagi soal Ji Eun Tak yang merupakan cinta pertamanya si goblin, Eun Tak juga harus mencabut pedang goblin, yang artinya si goblin akan mati dan mengakhiri kekekalannya goblin. Tsadest banget kisah cinta mereka sumpah. Amit-amit deh ya kalau nurun. -____-
Dari sejauh yang gua tonton, ternyata malaikat maut ini  tuh reinkarnasi dari si raja yang sangat goblin benci padahal mereka udah tinggal bareng serumah loh. Bayangin aja ntar apa yang bakal terjadi. Gua aja nggak mau ngebayangin loh, sebab gua nggak mau drama ini cepet ending. Gua terlalu cinta sama kisah mereka. Malaikat maut yang selalu ngomong baku banget sama gebetannya, saat goblin dan malaikat maut pertama kali punya smartphone dan belajar gimana cara makenya, saat goblin dan malaikat maut beli daun bawang dan di tengah jalan mereka diteriaki pengendara sepeda motor gara-gara mereka ngehalangin jalan. Wkwkwk sungguh cute banget. Apalagi kalau lu pada nonton behind the scenenya, dijamin ngakak. Gua inget satu momen saat Eun Tak nonton film di bioskop sama goblin. Jadi tuh mereka nonton film zombie Train To Busan yang aslinya mah si ahjussi goblin yang jadi aktornya di dunia nyata. Lucu aja adegan teriak-teriak ketakutan terus si goblin lempar syal sama popcorn di bioskop. Bikin orang di bioskop jadi ilang feeling abis. Hahaag
Sayangnya nih, udah tinggal beberapa episode lagi dan tempat nongkrong download gua drakorindo.com justru nggak bisa update drama ini lagi. Jadi gua kudu download dimana? :"(
Gitu aja cuap-cuap dari gua, gua dah capek ngetik, dan takut spoiler juga ding. Tapi gua rekomendasiin lu pada buat coba nonton ini drama dah. Bukan drama receh kok kayak catatan gua ini, jadi lu pada nggak bakal nyesel. Cuma ya di episode awal gitu rada ngebosenin gara-gara gua nggak suka drama kolosal. Okesip.
Ji Eun Tak dan Kim Shin a.k.a goblin.





DAMAR SATRIYA ADINATA. Namanya tercetak pada gelang pasien yang melingkar di tangan kanannya. Sementara tangan kirinya tersambung selang infus. Saat pintu dibuka, dari mulut ruangan sudah terdengar suara monitor yang berdetak. Damar baru saja dipindahkan dari ruang pemulihan ke Intensive Care Unit atau ICU. Ruangan yang dipenuhi hilir mudik perawat yang terus-menerus berkeliaran dengan sibuk. Mereka membaca printout komputer dan merekam tanda-tanda vital pasien.
Begitu banyak selang yang terpasang pada tubuh Damar, satu selang dimasukkan ke kerongkongan untuk membantu Damar bernapas; satu lagi di hidung; satu di nadi; membuat Damar agar cukup cairan; satu di kantong kemih, untuk mengeluarkan air seni; beberapa di dadanya yang kini tertutup oleh baju berwarna biru khas rumah sakit, untuk merekam detak jantung; satu lagi di jari, untuk merekam denyut nadi.
Tara mengusap air mata yang berhasil lolos dengan punggung tangannya. Tangannya bergetar menyaksikan Damar yang terbujur diam di atas kasur anti dekubitus. Wajah yang dulu menatapnya, kini dipenuhi goresan luka. Entah itu luka yang menghantam aspal, pecahan kaca maupun luka pisau.
Semburat rasa sakit, takut, marah dan menyesal menyelubungi perasaannya. Menciptakan reaksi rasa terburuk yang pernah ia alami. Kedua matanya tak mampu lagi menyaksikan sosok yang mendiami hatinya itu. Ia membenamkan wajahnya sembari menggenggam tangan Damar yang terjulur bebas. Air mata Tara kian mengalir dengan deras seperti air terjun di musim hujan. Tangisnya pecah menggema beradu dengan suara mesin pada ruangan itu.

[.]

Alunan musik merambat masuk melalui kabel pendek yang terhubung ke dalam telinga. Rentetan lagu-lagu dalam daftar pada ponsel Tara bergilir dimainkan dalam mode shuffle. Mulutnya berkomat-kamit mengikuti setiap lirik yang terdengar. Ia merapatkan jaketnya untuk menghalangi angin yang mencoba mencubitnya. Hari ini mendung. Tak ada sapaan hangat di pagi hari, tak ada langkah kaki yang menemani, tak ada tawa yang bisa dibagi. Tara menghela napas dalam lalu melangkah dengan cepat menuju kelasnya.
“Ra!” pekik seseorang yang berlari ke arahnya setelah memakirkan motornya. Tara menghentikan langkahnya lantas berbalik menuju sumber suara. Damar. Tak diragukan lagi. Ia selalu tampil dengan seragam yang berantakan. Baju yang dikeluarkan, dasi juga tak dipakai, tak ada name tag apalagi badge kelas. Bahkan logo OSIS pun tidak tertempel pada saku seragamnya yang putih.
“Bisa kita ngomong sebentar, Ra?”
“Gue mau masuk kelas, Dam. Bentar lagi bel,” ucap Tara acuh. Tara berniat melangkah pergi meninggalkannya, namun kemudian Damar mencengkeram lengannya. Menahan Tara untuk tetap berdiri di tempatnya berpijak.
“Saya harus jelasin berapa kali sama kamu? Saya berantem karena sebab. Saya, Ian, dan yang lain bukan berniat jadi gangster, kita nggak bakal mulai duluan dan kita bakal ngelawan kalau ada nyakitin orang yang kita sayang. Siapapun orang itu,” jelas Damar masih tidak melepaskan tangannya pada lengan Tara. Kedua matanya menatap lekat dan lurus ke arah Tara meskipun angin bertiup kencang hari itu. Meskipun berbagai pasang kaki berjalan melewati mereka. Berbagai pasang mata mulai menatap mereka berdua.
“Gue khawatir sama elo, Damar. Gue nggak pengen lo kenapa-napa.”
Tara melepaskan tangannya lantas meninggalkan Damar yang tak bergeming di tempatnya berdiri. Kakinya seperti tertanam di lantai. Seolah akar yang sangat kuat mengikatnya tanpa bisa ia bergerak.

[.]

“Aww!” jeritnya saat sebuah tangan mencengkeram lengannya dan mulutnya dibekap dengan sapu tangan. Tara berusaha menjerit sekencang mungkin agar semua orang mendengarnya. Ia terus meronta untuk dilepaskan. Satu tamparan keras mendarat di pipinya menciptakan cetakan merah.
“Brengsek!” umpat Damar lalu menendang dari samping hingga orang yang membekap Tara jatuh tersungkur menghantam aspal. Damar memukul orang itu tanpa jeda sedikipun. Tak membiarkan orang itu bangkit atau sekedar bernafas beberapa detik.
Damar menghampiri Tara lantas meneliti keadaan gadis itu. Ia seperti kesetanan saat melihat tangis Tara pecah. Dibawanya gadis itu ke dalam pelukannya. Damar merasakan tubuh Tara bergetar.
“Saya minta sekarang kamu pergi dari sini, Ra. Kamu harus pulang ke rumah. Biar saya yang selesaiin semuanya,” ucap Damar emosi.
“Nggak, Damar. Lo harus ikut gue pulang juga.
Damar menyentuh kepala Tara lembut. Kali ini emosinya tidak stabil. Perasaannya seperti dipermainkan. Antara amarah dan penyesalan menyelimuti hatinya. Saat Damar akan berucap, tiba-tiba seseorang datang dengan motornya.
“Kamu ikut Ian sekarang.”
“Tapi, Dam...”
“Saya mohon, Ra. Sekali ini saja dengarin saya.”
Tara enggan untuk meninggalkan Damar. Dilihatnya sekali lagi wajah itu. Hingga ia naik ke atas motor Ian, saat itu Damar menatapnya lekat dengan pandangan nanar. Sorot matanya masih sama seperti tadi. Menyiratkan luka yang baru saja terkoyak. Saat sosok Tara tak terlihat lagi di matanya, saat itu juga sebilah pisau menancap pada perutnya. Damar memekik kesakitan. Darah mengucur dengan derasnya. Aroma amis memenuhi telinganya.
Orang itu berlari ke arah motornya, mengendarai motornya dengan arah yang  sama seperti arah Tara pergi tadi. Damar berusaha bangkit sambil memegangi perutnya dengan darah yang membanjiri seragam sekolahnya. Kontras antara warna putih dan merah. Menciptakan motif baru pada disana. Tak dipedulikan rasa nyeri yang semakin ia rasakan, tak dipedulikan wajahnya yang semakin memucat.

[.]

Suara mobil-mobil yang mengerem berdecit di belakangnya. Tara menoleh ke belakang dan menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, dua motor bertabrakan dan terpental jauh. Salah satu dari motor itu menghantam truk besar yang terparkir di jalan raya. Menimbulkan bunyi keprakan yang keras. Dirasanya jantungnya mencelos tiba-tiba. Seperti baru saja dipotong dari nadinya.
“Ian, berhenti, Ian,” ucap Tara namun Ian tidak mengindahkan perintah Tara.

Tanpa terasa air matanya mendadak tumpah. “Ian, berhenti sekarang, Ian! Atau gue loncat sekarang!”
Motor Ian berhenti. Tanpa mempedulikan apapun, Tara segera turun dari motor dan berlari ke arah keramaian. Keramaian yang menyesakkan dadanya. Dari tadi ia dirundung perasaan yang sangat buruk. Pikirannya selalu berakhir pada Damar. Sedang apa dia? Apa yang dilakukannya sekarang?. Apakah Damar sudah menunggunya di rumah Tara?. Berbagai pertanyaan itu akhirnya terbantahkan dengan sosok Damar yang tergeletak lemah di atas aspal dengan motor disampingnya yang remuk.
Mata Damar terbuka sedikit. Setiap tarikan napas dilakukan dengan susah payah. Darah mengalir dari mulut dan hidungnya. Tara memeluk dan menarik Damar ke pangkuannya. Tubuhnya rapuh dan lemah. Ia bisa merasakan Damar sekarat. Matanya membuka, bergetar. Damar memandang Tara lekat, mengangkat tangannya, lalu memegang pipi Tara. Begitu Damar melakukan itu, Tara menangis.
“Gue di sini,” kata Tara bergetar.
Damar berusaha tersenyum.
“Maafin gue, Damar,”
“Ssshh,” katanya. “Bukan salah kamu, Ra. Jangan nangis, nanti saya sedih.”
“Maafin gue,” kata Tara di antara isakan tangis.
“Janji sama saya, Ra. Kalau saya kenapa-napa setelah ini, saya nggak pengen lihat kamu nangis kayak gini.”
Isakan itu justru menjadi semakin keras.

[.]

Yang dapat Tara lakukan sekarang yaitu berdoa. Ia berharap banyak pada tangan terampil dokter dan mood baik Tuhan. Ia tak peduli pada perkataan terakhir Damar yang ia dengar. Baginya takkan terjadi apapun pada Damar. Ia akan menemaninya dengan guyonan yang selalu menggelitiknya.
Saat ia menatap lekat wajah Damar untuk pertama kalinya, saat ia menggenggam tangan Damar untuk pertama kalinya, saat ia benar-benar di samping Damar menemani dirinya untuk pertama kalinya, ia berfikir untuk tidak akan melewatkan satu hari bersama Damar. Ia tak sanggup untuk kehilangan Damar. Ia tak akan pernah sanggup. Tara sudah terlanjur terjebur dalam perasaan yang mengikatnya. Sekali ini, ia tak bisa menyangkalnya bahwa ia, si gadis kaku itu mencintai Damar.
Saat air matanya nyaris tumpah kembali, saat itu juga elektrokardiograf berbunyi melengking.
“Damar?”

E N D



Mungkin ini terdengar aneh dan anggap saja diriku ini orang yang aneh. Dibalik buku tebalku yang membentuk piramida kecil, dibalik poni yang menutupi dahiku, aku mungkin satu-satunya orang yang selalu berada di dekatmu, namun kau tak pernah menyadari itu. Klise seperti pengagum rahasia yang lain, memang. Tapi sungguh aku hanya bisa berada di posisi ini. Detak ini terdengar sayup dan hanya aku saja yang dapat mendengarnya yang semakin lama semakin meronta ingin menemukan medan kuat yang telah menariknya. Tetapi aku hanya bisa sembunyi. Aku hanya bisa berada dalam radius beberapa meter dari dirimu lantas hanya memandangimu dalam diam. Tak jarang aku pun ikut tertawa ketika kau menertawakan segala hal yang kadang tak ku pahami. Aku menyadari satu hal, senyum dan tawamu begitu menular dengan cepat.
Aku tak akan menuntut lebih, mungkin aku egois, tetapi sekali ini saja biarkan aku tetap seperti ini hingga perasaan ini meluntur dengan sendirinya. Apabila kau mendengar hatiku berbicara, tolong jangan mencintai gadis lain. Aku mengerti akan kepopuleranmu, tetapi aku ingin agar kau tetap seperti ini dan tidak berhubungan dengan siapapun sampai perasaan ini menghilang perlahan dan kemudian lenyap hingga tak ada tersisa lagi untukmu.
Aku tahu aku sungguh egois, aku membiarkan diriku bahagia hanya dengan melihatmu dari kejauhan dan tidak dengan dirimu yang mungkin akan mengaggapku aneh apabila kamu mengetahuinya. Aku rasa sekarang aku sudah seperti seorang penguntit. Aku bahkan tahu bagaimana dirimu membunuh waktu dan menghabiskan waktu senjamu dengan membaca buku di balkon kamarmu. Aku nyaris tahu semua tentangmu, tapi sayang, kau tidak mengenalku sama sekali padahal kita tinggal berdekatan.
“Rima, bawain keripik durian nih buat tetangga depan rumah. Tadi Bunda kelupaan. Bilang aja oleh-oleh dari Thailand,” pekik Bunda dari dapur yang masih sibuk menyiapkan makan malam. Tubuhnya dibalut dengan apron bermotif bunga.
“Tetangga yang mana, Bun?”
“Itu loh yang anaknya satu sekolah sama kamu.”
Deg. Serius? Gue harus ke rumah Damar sekarang? Demi apa?.
Aroma petrikor yang kuat menusuk indra penciumannya. Tadi siang hujan turun dengan derasnya, membasahi tanah, aspal dan tanaman. Kubangan air pada aspal depan rumah tercetak jelas menjadi seperti cermin. Aku melihat pantulan diriku yang tegang dan merasakan tanganku semakin dingin seperti mengenggam es. Aku gugup.
Saat berda di depan pintu, jutaan kepingan perasaan menyelubungi hatiku. Bahkan aku tak bisa mengidentifikasi satu per satu dari kepingan itu. Ingin rasanya aku berbalik dan kembali ke rumah saja. Membawa pulang keripik durian lantas memberikannya kepada Bunda. Saat ini jantungku seperti kembang api yang meletup-letup ke angkasa dan menjerit dengan keras. Semburat rasa yang sering diriku alami, namun yang sekarang efeknya dahsyat seperti gelombang tsunami yang datang tanpa tanda yang berarti. Datangnya tiba-tiba dan dampaknya tak perlu dipertanyakan lagi.
            Aku menghirup udara yang tercampur dengan tanah basah itu sebanyak mungkin. Tenggorokanku mulai mengering seperti musim kemarau, berbanding terbalik dengan langit yang dibalut awan abu-abu tebal. Setelah tanganku dengan kaku mengetuk pintu kayu bermotif ukir di depanku, aku memejamkan kedua mataku sambil menghela nafas. Saat itu juga pintu terbuka. Membawa seseorang berkaos merah marun dengan aroma jeruk mandarin, petitgrain, dan amber, khas parfum Bvlgari Aqva. Parfum mahal yang bahkan Ayah saja tak pernah memakainya. Aroma ini tak pernah terlupakan dari indera penciumanku dan sudah menjadi favoritku, karena Damar.
 “Oh, Ada apa? Cari siapa?” tanya Damar penasaran setelah menemukanku berdri di depan pintu rumahnya. Orang asing dengan kantong kresek putih di tangannya.
“Umm.. oleh-oleh da..ri Bunda, kak,” ucapku gugup. Pesona dia masih belum bisa lenyap dari perhatianku. Aku mengulurkan kantong kresek berisi keripik durian kepada Damar.
“Oke thanks ya. Anyway, lo tetangga depan rumah yang satu sekolah sama gue bukan sih? Rima Nandira, bukan?”
Jantungku terasa berhenti berdetak. Aku merasa aliran darahku terhenti. Tanganku yang sedari tadi dingin, menjadi semakin kaku dan tak bisa dirasakan. Lidahku mendadak seperti dibekukan.
“I...Iya kak, benar.”
“Salam kenal ya, Rim. Lain kali kalau ketemu panggil aja, nggak usah sungkan sama gue mah,” katanya.
Sebelum sempat aku menjawab, tiba-tiba muncul seseorang yang dibalut gaun selutut berwarna hijau toska. Ia melingkarkan lengannya pada lengan Damar dan tersenyum manis. Disusul dengan Ibu Damar dengan gaun bermotif batik yang anggun juga.
“Oh nak Rima, ada apa?” sapa Ibu Damar sambil membetulkan letak kacamatanya.
“Ini lho Ma, oleh-oleh dari Bundanya Rima.” Damar mengangkat kantong kresek putih menunjukkan kepada Ibunya.
Owalah, makasih ya nak Rima. Bilangin juga ke Bunda, makasih banyak.” Ucap Ibu Damar. “Ini tuxedo kamu, cepat dipakai. Udah mau hujan ini.” lanjutnya lantas memberikan tuxedo hitam kepada Damar.
Setelah berpamitan, Ibu Damar dan cewek bergaun hijau toska itu berlalu masuk ke dalam mobil. Aku seperti menyaksikan pertunjukan yang membuat dadaku nyeri seketika di depan mataku sendiri.
Mereka pergi. Meninggalkanku bersama air hujan yang beradu dengan air mata. Hatiku seperti digaruk garpu. Aku menyadari jatuh cinta sendirian itu nyeri. Ternyata jatuh cinta diam-diam itu menyakitkan.

[.]


Ini merupakan cerpen yang pendeknya kebangetan dan mengandung unsur cerita yang sama sekali tidak menarik dan alay. Hanya saja file ini menuh-menuhin kapasitas laptop gue, jadi gue taroh disini buat nyakitin mata kalian yang bakal baca nih cerpen. Hahag jk.




[mereka]


Aku menjulurkan tanganku meraih gelas yang berisi kopi hitam. Aromanya merangsek masuk membawaku kedalam sekelumit kenangan bersama orang-orang yang pernah turut andil dalam hidupku. Mengisi ruang kosong yang penuh dengan sarang laba-laba.
DILAN DALA DANANDYAKSA. Aku tau, namanya sulit untuk dihafalkan. Untuk tipe orang yang susah menghafal nama seperti diriku, nama Damar menjadi di urutan pertama yang kadang membuatku pusing. Pertama kali aku bertemu dengannya pada saat Masa Orientasi Siswa atau biasa disebut MOS. Berbagai atribut konyol harus dikenakan dan tidak boleh tertinggal satupun. Seperti mahkota dari kardus, tas kardus yang dilapisi gambar batik dengan tali punggung dari tali sumbu kompor minyak yang membuat pundakku menjadi kesakitan karena beban dalam kardus bisa dibilang berat. Kadang aku was-was jika kardus tak kuat menopang beban lantas barang bawaanku menjadi jatuh berserakan dimana-mana. Dan hal mengerikan itu terjadi.
Saat bus berhenti di depan sekolah, puluhan siswa bergegas menyelonong keluar dengan membabi buta takut kena hukum dari anak-anak OSIS jika terlambat berbaris. Aku pun ikut bergegas dan tiba-tiba sosok siswa dengan tubuh gempal menyenggolku hingga aku jatuh tersungkur. Tas yang tadinya di punggungku, menjadi terpental jauh dari diriku. Menghamburkan isinya. Makanan, botol air mineral, buku, tempat pensil dan seragam pramuka yang akan digunkan sore nanti tergeletak pasrah di atas batako.
“Aduh!” pekikku ketika menghantam batako. Lututku otomatis tergores lantas darah mengalir membasahi kaos kaki putih. Aku mencoba untuk bangkit, namun pergelangan kaki kananku terkilir.
Aku merutuki diri sendiri dalam hati yang telah bertindak ceroboh dan membiarkan diriku berakhir seperti ini. Tak ada satupun orang yang dengan cepat menolongku. Namun tiba-tiba datang seseorang, yang kemudian untuk pertama kalinya aku mengenal sosoknya.
“Lo nggak pa-pa?” tanyanya sambil meletakkan tas kardusnya. “Yaampun berdarah gini. Bisa jalan nggak?”
“Kaki gue terkilir..,” ucapku pelan.
Dia menatap ke arahku beberapa detik, lalu menggendongku masuk melewati gerbang. Mendudukkan diriku di kursi pendek depan pos satpam. Cowok itu merogoh saku celananya dan mengeluarkan sapu tangan berwarna biru dongker, ia lantas berjongkok di depanku. Bak anak PMR, dia mengelap perlahan darah yang mengalir lalu menempelkan plester pada lututku.
“Udah,” katanya. Dia beralih menatapku. “Coba jalan pelan-pelan, gue yakin ntar sembuh kok.”
“Loh kenapa?”
“Tas gue..,” ucapku lirih, menatap nanar keluar gerbang. Menerawang keadaan tas kardus milikku. Ini sebuah bencana, aku pasti akan di hukum.
Cowok itu bangkit lalu meninggalkanku. Aku menundukkan kepala lalu berdiri, berniat mencari tas kardus. Tiba-tiba cowok itu datang kembali, menenteng tas kardus yang telah rusak dan seragam pramuka yang tadinya terpental jauh dari tas kardus.
“Cuma ini yang bisa gue selamatin.”
Aku menerima dengan raut sedih. “Thanks ya. Sorry sapu tangan lo jadi jelek. Next time gue ganti,” ucapku. Aku tersenyum padanya. Senyum getir.
“Tunggu!”
Aku menoleh dan dia mengeluarkan barang-barang dari tas kardusnya lalu memasukkannya ke dalam kantong kresek berwarna hitam.
“Nih, pake aja.”
“Terus lo gimana?”
Dia tersenyum. Senyum yang sungguh manis. Tanpa mengucapkan kata, ia berlalu begitu saja meninggalkanku yang terbengong dengan dua tas kardus di tanganku.
Saat berada dalam barisan, aku menyaksikan siswa yang di hukum karena perlengkapan yang kurang. Kedua mataku membulat ketika menangkap seseorang yang berdiri di depan. Namanya Dilan, dia yang menolongku tadi pagi. Muncul perasaan tak enak yang menyelubungi.
Sejak saat itu, aku dan Dilan sering bertemu. Dia menjadi satu-satunya orang yang sangat dekat denganku hingga akhirnya hubungan kita tak hanya sekadar teman. Namun lebih dari itu.

[.]

NATHAN ARYA REKSA. Dia pengganti Dilan. Sifatnya berbeda dengan Dilan. Bisa dibilang Dilan anak bandel, dan Nathan tidak. Sebenarnya aku tak suka membandingkan orang. Baiklah aku akan memulai bercerita. Nathan memiliki banyak kesamaan denganku. Mulai dari genre film, genre buku sampai hobi. Tak ayal jika aku dan dia sering bersama untuk membunuh waktu. Nathan cowok yang romantis. Satu hal yang tak pernah luput dari ingatanku adalah saat ia memberikan kejutan ulangtahun. Dia bukan siswa SMA 12, dia tidak satu sekolah denganku. Aku tahu bagaimana teman-teman satu kelasku yang jail dan sulit untuk diajak kerjasama. Meskipun pembawaan Nathan kaku dan ia hanya mengenal Eva, teman satu mejaku, tapi kali ini ia bisa membujuk teman-teman satu kelas—entah bagaimana caranya, tapi sungguh aku sangat terkesan dengan semua itu.
            “Saya hanya bisa memberikan ini di hari spesial kamu, saya juga ingin menitipkan sesuatu yang spesial bagi saya,” ucapnya setelah memberikan satu buket bunga mawar putih kepadaku.
Aku bingung dengan kalimat terakhirnya. Dia senang membuatku penasaran seperti ini, padahal jantungku berdetak dengan kencang dan keras, seperti musik rock yang dimainkan pada saat hening.
            “Saya ingin menitipkan hati saya sama kamu. Tolong jaga baik-baik hati saya, ya. Saya cinta kamu.”

[.]

            suara gemerincing pertanda pintu di buka terdengar nyaring di dalam kedai kopi. Dia datang. Dia yang dulu mendiami hatiku. Dia yang selalu hadir dalam hari-hariku. Dia yang telah mengisi kekosongan dalam hatiku. Dilan Dala Danandyaksa. Ya, Dilan. Aku sudah bisa menghafal namanya sekarang. Dia datang dengan dibalut kaos berwarna putih dan tuxedo, serta satu buket bunga mawar putih. Kali kedua, pada yang sama. Kini, aku kembali pada cinta pertamaku.

Diberdayakan oleh Blogger.