Gong Yoo, seorang aktor Korea Selatan dengan kemampuan aktingnya yang luar biasa mempesona. Ahjussi yang lahir di Busan pada bulan Juli 37 tahun silam itu memiliki nama asli Gong Ji Cheul. Dalam acara Guerrilla Date di salah satu stasiun TV Korea, ia sempat mengatakan bahwa nama panggung Gong Yoo diambil dari marganya dan nama ibunya.
Gue memang terlalu dini untuk ikut terpikat jampinya Gong Yoo. Berawal dari film layar lebarnya berjudul Train To Busan yang trailernya sempat ditayangkan di Festival Film Cannes 2016. Dalam Train To Busan, Gong Yoo berperan sebagai seorang ayah yang bekerja sebagai manajer keuangan. Saat dirinya dan Su-An—putrinya, berangkat ke Busan dengan kereta KTX untuk menemui mantan istrinya, tiba-tiba ia dihadapkan pada bahaya besar, yaitu serangan sekelompok zombie yang diakibatkan oleh virus. Dari persepsi gue, Train To Busan merupakan film zombie terkeren yang pernah gue tonton. Sebelumnya gue suka Warm Bodies, film tentang zombie juga yang dibintangi Nicholas Hoult dan Teresa Palmer. Meskipun gue nonton Train To Busan berkali-kali, sensasi menegangkan dan mengharukannya tuh masih bisa dirasain. Entah karena gue yang teralu baper atau gimana, Train To Busan bikin gue nangis sesengukan waktu Gong Yoo harus terjun dari kereta karena dia udah tercemar virus laknat itu. Menurut gue, setiap peran di Train To Busan itu porsinya pas banget, mulai dari tokoh protagonis, antagonis, sampai peran pendukungnya. Kalau diumpamain sama makanan mah, Train To Busan punya bumbu yang pas, rempah-rempahnya tuh pas banget. Mungkin karena Portugis udah taubat dan nggak ngerampas rempah-rempah lagi kali ya. Mungkin.
Menurut gue, Gong Yoo itu merupakan aktor Korea yang total banget dalam berakting. Mau mukanya jadi jelek juga dia nggak peduli, yang penting aktingnya maksimal. Terbukti banget di film Train To Busan. Dari dia ngeden nutup pintu buat ngehalangi zombie sampai di drama Goblin : The Lonely and Great God, dengan pakaian prajurit perang yang lusuh dan wajah pucat disertai bibir pecah-pecah dan rambut yang panjang tak terurus pun, tetap bikin dia maskulin dan adorable banget. Sumpah, gue nggak bohong. Kalau gue bohong, nikahin aja diriku ini sama ahjussi Gong Yoo.
Mungkin teman-teman penggemar Gong Yoo yang lain udah hafal dan nonton semua film sama dramanya ahjussi, kayak The Suspect, Silenced, Finding Mr. Destiny, A Man and A Woman, Coffee Prince, Big, The Age of Shadows, dan yang lainnya sampai dengan Goblin : The Lonely and Great God yang di akhir Januari tahun ini baru saja rampung tayang, dan gue selalu berharap akan ada sekuelnya. Dari drama itu, Gong Yoo menjadi semakin terkenal dan banyak mendapat tawaran di berbagai negara, entah itu menjadi model iklan atau sekadar jumpa penggemar aja. Bisa dibilang, laki-laki yang belum menikah itu sekarang kebanjiran tawaran pekerjaan.
Berdasarkan behind the scene drama, film, iklan, maupun berbagai interviewnya, gue pikir ahjussi rasa oppa ini merupakan pribadi yang menyenangkan. Dia tipe orang yang doyan guyon. Mungkin blood type A itu orangnya suka humor kali ya. Belum lama ini gue nonton Guerrilla Date with Gong Yoo di Youtube, gue sampai ngakak waktu Gong Yoo ditanyai seputar kopi. Laki-laki yang punya tahi lalat di hidung itu mengatakan bahwa dirinya udah kayak ikon kopi di negaranya. Mungkin gara-gara drama Coffee Prince kali ya, sampai-sampai setiap dia beli kopi, dia ditanya sama mbak-mbak penjualnya kayak Semalam oppa minum kopi nggak?, dan ahjussi juga disuruh bergaya kayak di iklannya pasca minum kopi. Setiap karakter dari drama maupun filmnya itu terlalu kuat. Sekuat jeratan cinta mantan. Eh. Maksud gue sekuat lumpur lapindo yang sampai sekarang nggak bisa berhenti memperluas wilayah jajahannya.
Gue pikir, laki-laki yang punya abs itu maskulin di dalam maupun di luar filmnya. Waktu di Festival Film Cannes aja, dia maskulin dan gentleman abis. Gue nggak bisa bayangin kalau tiba-tiba ahjussi didandani unyu kayak aktor yang main film Descendants of The Sun waktu diundang datang ke perayaan ulangtahun RCTI. Sumpah ya gue kira artis itu macho luar dalam, tapi ternyata malah bikin gue ilang feeling gitu.
Gara-gara drama Goblin : The Lonely and Great God, banyak banget yang ngeship ahjussi sama Kim Go Eun. Katanya tuh mereka berdua cocok banget. Sampai dalam face off battle hallyu, Gong Yoo dan Go Eun jadi pemenang kategori pasangan terbaik. Malah pernah terbesit di opini gue kalau ahjussi lebih cocok sama Jung Yumi. Jung Yumi itu yang main Silenced dan juga Train To Busan yang jadi ibu hamil yang berhasil survive sampai akhir, FYI aja sih. Selain karena mereka sama-sama dari Busan, mereka juga ternyata akrab banget. Gong Yoo tuh sering godain Jung Yumi, kayak waktu syuting Train To Busan, Gong Yoo nggak ngebolehin Jung Yumi masuk ke kereta, sampai kru juga ikut ketawa melihat tingkah mereka berdua. Apalagi waktu premiere dan photoshoot Train To Busan di Cannes, mereka berdua kayak pasutri dengan Su-An sebagai anak mereka.
Nih, fotonya.
Tapi, ahjussi sama Kim Go Eun juga cocok sih ya. Apalagi pada foto pertama yang Go Eun unggah di akun instagramnya, mereka cocok banget, kayak yang baru aja nikah. Terlepas dari sama siapa nanti akhirnya ahjussi akan melabuhkan hatinya, gue sih setuju-setuju aja. Usia ahjussi udah matang banget buat berkeluarga. Di Guerrilla Date with Gong Yoo, ada penggemar yang nyuruh ahjussi bikin pengumuman di website resmi penggemarnya kalau do’i mau nikah. Nonton aja videonya di Youtube, gue aja dibikin ngakak saat wawancara di Gangnam, ada seorang fans yang masih SMP bilang kalau ahjussi itu oppanya, dan hostnya malah kayak samcheonnya, padahal usia pembawa acara itu lebih muda dari Gong Yoo. Kkkkk.
Selain akting, ahjussi juga jago masak dan jago nyanyi. Duh, suamiable banget. Jeon Do-Yeon yang main bareng di A Man and A Woman bilang kalau Gong Yoo itu seksi banget kalau lagi masak. Bahkan para pemain Train To Busan juga bilang kalau laki-laki satu juta dollar itu masakannya enak banget. Sebagai aktor, suara Gong Yoo tuh nggak sumbang. Terbukti banget di lagu The Last Time. Dengarin aja di Youtube. Gue juga udah download kok. Dia multitallented abis. Pantes sih kalau dia pernah jadi penyiar radio juga.
Sekadar info nih, sebenarnya Gong Yoo ditawari main di Descendants of The Sun jadi pemeran utama, tapi dia nolak. Mungkin dia lagi trauma sama drama kali ya, makanya dramanya cuma sedikit. Perlu diketahui, DOTS sama Goblin itu penulisnya sama. Jadi ahjussi pernah nolak tawaran dramanya sebanyak 5 kali. Heol.

Gue nggak ngerti kenapa gue sampai terpikat, terjerumus dan menggila sama ahjussi yang satu itu. Biasanya gue mah nggak yang terlalu suka sama artis Korea. Entah jampi apa yang laki-laki itu punya. Entah dukun mana yang udah dia datangin sampai gue terpesona seperti ini. Entah dia bersemedi dimana dan berapa lama sampai gue nggak bisa move on dari dirinya dan dramanya. Gong Yoo, ahjussi rasa oppa yang suamiable banget.[]






Drama ini diproduksi oleh SBS yang bercerita tentang seorang penyiar cuaca 60 detik, Pyo Na Ri di Seoul Broadcasting Corporation. Dia tinggal di Rak Pasta lantai 4 hanya bersama adiknya Pyo Cho Yeoul yang selalu mendapatkan peringkat satu di sekolahnya. Wanita yang memiliki impian sebagai seorang penyiar berita 60 menit itu, gigih banget dalam urusan pekerjaan. Dan ia juga nggak sungkan disuruh-suruh sama staf yang lain.
Cerita ini mulai menarik saat Pyo Na Ri bertemu dengan cinta pertamanya, seorang reporter di stasiun teve yang sama dengannya, di Bangkok. Selama tiga tahun, ia memendam cinta sepihak. Sendiri, dan diam-diam. Nggak ada yang nggak tau tentang fakta itu. Seluruh SBC tau kalau Pyo Na Ri mengalami cinta sepihak. Bahkan reporter Lee Hwa Shin yang notabene cowok yang kasar, nggak jarang Pyo Na Ri dibikin malu sama dia. FYI, saat di Bangkok, Pyo Na Ri bertemu dengan seorang cowok tajir yang kebetulan sebelahan sama doski waktu di pesawat, namanya Kim Jung Won. Dan ternyata nih Jung Won tuh sahabatnya reporter Lee, jadi saking enak hidupnya, dia janjian sama reporter Lee ngopi di Bangkok, padahal doski lagi di Seoul dan mau rapat. Daebak emang.
Drama ini banyak nyeritain cinta segitiga. Dimulai dari cinta segitiga Pyo Na Ri sama Kim Jung Won dan Lee Hwa Shin, selanjutnya chef Rak Pasta sama repoter Kye dan penyiar berita Bang. Selanjutnya perebutan hak asuh Ppalgan oleh reporter Kye dan penyiar berita Bang, lalu yang terakhir Ppalgan sama Cho Yeoul dan Dae Gu.
Setelah di vonis kena kanker payudara, Lee Hwa Shin menjadi sangat dekat dengan Pyo Na Ri. Bahkan ia juga jatuh cinta sama doski waktu mereka satu ruangan sebelum dan setelah operasi. Lee Hwa Shin sempat kesal banget sama dirinya sendiri karena telat menyadari rasa cintanya pada Pyo Na Ri, dia mengaku bodoh gara-gara jodohin Pyo Na Ri sama sahabatnya, Kim Jung Won, sampai mereka jadian. Dia juga kesal udah membiarkan Pyo Na Ri mencintainya dengan sepihak—sendiri, dan diam-diam—selama tiga tahun.
Sosok Pyo Nari yang menyenangkan, membuat dirinya gampang disukai orang lain. Tapi karena lovers dan haters itu satu paket, dia juga banyak dibenci. Ada yang bencinya ditunjukin secara terang-terangan, dan ada yang sok manis di depan, tapi busuk di belakang. Pyo Na Ri nyaris kehilangan pekerjaannya karena salah satu teman penyiar cuaca yang berusaha menyingkirkannya. Sampai pada suatu hari, dia dijebak buat minum soju sampai mabuk dan si penyiar cuaca yang punya niat jahat itu numpahin daging ke baju Pyo Na Ri, padahal beberapa menit lagi dia sudah harus siaran.
Kata om John Green, the world is not a wish-granting factory sih, tapi apapun itu kita emang kudu berusaha semaksimal mungkin, masalah hasil mah urusan belakangan. Kayak waktu Pyo Na Ri ikut audisi penyiar berita. Dia memang menyadari kalau dirinya serakah yang nggak mau mengundurkan diri dari penyiar cuaca dan malah daftar penyiar berita. Padahal semestinya dia harus milih salah satu. Tapi karena keukuh sama keputusannya, Pyo Na Ri mati-matian muter otak biar bisa datang tepat waktu ke studio audisi, karena waktu mulai audisi yang awalnya jam 9, tiba-tiba diubah jadi jam 8. Otomatis dia panik abis dong ya, apalagi saat tau kalau dia juga kudu meliput cuaca di festival bunga cosmos, yang lokasinya jauh dari studio audisi. Semua kekacauan itu adalah ulah Kim Tae Ra, ibunya Kim Jung Won yang menentang abis hubungan anaknya dan Pyo Na Ri, karena Pyo Nari gadis biasa aja dan bukan kalangan orang borjuis. Heran deh, jaman modernitas kayak gini, kasta tuh masih aja berlaku. Memang pedas dan pahit kayak cabai busuk yang nggak laku gara-gara harganya mahal.
Tapi akhirnya, karena bantuan reporter Lee dan Kim Jung Won, Pyo Na Ri masih tetap bisa datang dan ikut audisi sampai dia diterima sebagai penyiar berita pagi. Keren!
            Dari drama ini, gue dapat banyak pelajaran hidup. Nggak cuma mengenai cinta aja. Kayak someday, sesibuk apapun dirimu, lo tuh harus selalu punya waktu buat anak lo. Kayak yang dilakuin ayahnya Ppalgan, biar si anak nggak benci sama orangtuanya. Dan lagi, kegigihan Pyo Na Ri terhadap cita-citanya, membuat gue sadar, kalau hidup tuh nggak kayak drama Korea, dimana lo bisa ketemu Dokkaebi sama Grim Reapper yang bisa ngubah hidup lo yang menyedihkan, dan bahkan bisa ciptain emas saat lo mabuk.

            Sekali lagi, hidup tuh nggak kayak Kdrama, tapi gue selalu berharap bakal ketemu sosok manusia yang kayak Kim Shin. Yang kayak Dokkaebi.[]




Hanya sekadar keluhan saja -____-
Bagaimana mau milih?, jangankan visi dan misinya, pasangan calonnya saja nggak ada yang tau siapa aja. Kalau ada yang nyinyir, ‘kamu kan melek internet, kenapa nggak cari di google siapa saja calonnya.’. Well, okay, saya pribadi memang bisa kalau cuma ngetik di keyboard dan nyari siapa aja calon dan visi serta misinya melalui mesin pencarian online. Masalahnya disini, yang dibutuhkan tuh effort dari setiap pasangan calon agar bisa dikenal masyarakat luas. Yang butuh dipilih itu sebenarnya siapa?. Batang tuh bukan hanya alun-alun sampai lapangan Dracik saja, atau kawasan tempat tinggal paslon saja. Kalau seperti itu, sama saja kayak nyalon kepala desa dong?. Saya prihatin sama masing-masing paslon yang nggak dikenal sama warganya. Paslon gubernur DKI saja punya strategi kampanye dengan ketemu setiap kelurahan di DKI agar semua visi dan misinya dipahami masyarakat, nah ini tuh kayak yang garing banget gitu. Saya sempat nanya ibu saya saja, beliau bahkan cuma tau dua paslon saja. Itu pun yang ngerti visi dan misinya cuma satu paslon. Tbh, saya tuh sebenarnya ingin menggunakan hak suara saya dengan tidak diarahkan saya harus milih siapa, ini hak suara saya, ini otoritas tangan saya yang bakal nyoblos kepala siapa. Tapi kok malah kayak gini, saya nggak tau harus milih siapa, dan saya dari awal sudah disanguni buat milih paslon mana. Disanguni di sini, bukan berarti saya dapat uang ya, saya nggak pernah dapat sepeserpun, FYI aja. Cuma karena paslon itu masih ada ikatan keluarga, saya disuruh milih paslon tersebut.

Dulu waktu pertama kali saya ke TPS, saya juga bingung saat disodori selembar kertas besar penuh dengan foto-foto manusia yang terasa asing bagi saya, dan akhirnya, saya hanya cap cip cup saja seperti milih tribut di Hunger Games, bukan milih pemimpin yang bakal bawa negara ini ke arah yang lebih baik bagi seluruh bangsa. Saya nggak ngerti ini demokrasi macam apa.


Mau sedikit berceloteh  yang mengandung spoiler tentang drama korea TVN, Reply 1988. Sebuah kilas balik dari tahun 1988. Karena gue sebel gegara nggak dapet kuota beberapa mata kuliah semester 5 -____-. Okesip, drama ini menceritakan masa kecil dari 5 anak yang tinggal di kompleks Ssamundong, Seoul. Di drama ini tuh komplit banget. Dimulai dari persahabatan, keluarga, dan cinta. Setiap keluarga di kompleks itu tuh nggak ada satupun yang sempurna.
Dimulai dari keluarga Sung Deok Sun yang tinggal di lantai bawah. Ayah Deok Sun kerja di bank di bagian pengawasan penyelewengan dana, yang suka banget beli barang-barang yang sebenarnya nggak dibutuhin, tapi beliau membeli karena merasa kasihan pada penjualnya. Sementara ibunya hanya seorang ibu rumah tangga. Sung Bo Ra, putri sulung dari keluarga itu yang kuliah di Universitas Seoul. Di kompleks itu, Bo Ra tuh satu-satunya yang disegani karena dia tuh galak dan sensitif banget. Bahkan ia juga sering ikut demo yang bikin ayahnya kesal setengah mati. Deok Sun adalah putri kedua yang mendapatkan rangking 989, dia orangnya nggak bisa diam, dan malas belajar. Deok Sun pernah jadi pembawa papan nama negara yang ikut di olimpiade Seoul, dia juga suka banget ngeladeni tingkah aneh presdir Kim. Deok Sun pernah ganti nama jadi Sung Soo Yeon karena kata peramal kalau nama dia diganti, dia bakal masuk universitas. Tapi akhirnya dia ganti ke nama aslinya lagi. Ngakak banget. Dan yang terakhir, Sung No Eul. No Eul ini asli bikin ngakak banget. Tampangnya yang overage, dan tingkahnya tuh emang ngocok perut banget. No Eul sama bodohnya seperti Deok Sun. No Eul orangnya curigaan. Dia rangking 1000 di sekolahnya. Namun di akhir-akhir episode, ternyata No Eul ini jago banget nyanyi sampai dia lolos audisi nyanyi se-Seoul. Daebak!
            Yang kedua, keluarga Presdir Kim yang punya GoldStar. Jadi tuh awalnya mereka keluarga miskin, tapi mereka kemudian mendadak kaya. Putra sulung mereka Kim Jung Bong yang gagal ikut ujian masuk universitas sebanyak 7 kali, yang juga suka ngoleksi apapun itu dari mulai lotre olimpiade sampai perangko. Jung Bong itu manusia unik kedua setelah No Eul. Jung Bong sangat menyukai gula, jadi nggak heran pas dia makan nasi dikasih mayo terus ditabur gula banyak banget. Jung Bong adalah seorang  buddha, ia pernah 10 hari tinggal di vihara dan nggak sengaja ketemu presiden Korea yang kontroversial, lantas selanjutnya Jung Bong di usir dari vihara oleh ajudan presiden Korea. Dia pernah bikin seribu origami bangau yang dimasukin ke stoples kaca buat pacarnya Mi Ok yang ternyata adalah anak dari penjual kain di Seoul, dia juga pernah berulang kali beli snack berhadiah buat dapatin tas. Jung Bong suka ngasih solusi ke keluarganya kayak misalnya, kaset yang suaranya udah jelek tuh harus dimasukin ke kulkas selama 15 menit agar suaranya kembali seperti baru. Keluarga presdir Kim ini mendadak kaya karena ia menang lotre olimpiade di siang hari saat mereka menikmati sup tofu. Keluarga ini tuh unik banget. Gue dibuat terpingkal-pingkal karena ulah Kim-sajangnim yang diluar rata-rata, yang sampai bikin kabel setrikanya yang awalnya panjang dan putus, jadi habis gara-gara sok mau ngebenerin. Lalu Ra Miran, chitahnya Ssamundong yang suka banget pakai baju motif cheetah. Ra Miran juga pernah ikut audisi menyanyi dan ia gagal untuk kedua kalinya gara-gara kaset yang tertukar. Jadi tuh harusnya lagu instrumental, tapi disitu jadinya suara orang jualan telur. Asli bikin ngakak guling-guling. Dan yang terakhir, Kim Jungpal a.k.a Kim Jung Hwa yang orangnya juga unik. Dia tuh cuek banget sama lingkungannya. Bahkan sama keluarganya juga ia nggak banyak ngomong. Gue nggak tau kenapa Jungpal bisa punya dua nama, mungkin di drama diceritain tapi gue nggak mantengin bagian itu. Tbh, gue lebih ngeship Deok Sun sama Jungpal daripada sama Choi Taek. Ini mah gara-gara Jungpal yang selalu ragu-ragu sama yang dia yakini. Pelajaran yang bisa gue petik dari Jungpal adalah bahwa bukan waktu yang bikin lo gagal, tapi keyakinan lo. Waenyol!
            Ah gue inget sama Kim Jung Bong pas dapet surat yang kudu diterusin ke beberapa orang. Itu tuh kayak sms spam yang ngancem kalau lo nggak nyebar bakal dapet bencana. Dan Jung Bong percaya abis sama itu. Sampai tangannya pegel nyalin banyak banget. Wkwkwk ngakak abis.
            Yang ketiga, keluarga Dong Ryong. Dong Ryong ini jago nari. Dia peringkat terakhir di sekolahnya, padahal ayahnya seorang dekan di sekolahnya yang kemudian menjadi wali kelas pada saat ia kelas 3 SMA. Ibu Dong Ryong merupakan Ratu Asuransi. Nasib Dong Ryong ini membuat gue merasa kasihan. Ibunya nggak pernah masakin dia, dia seringnya beli makanan pesan antar seperti jjajjangmyun. Dia itu paling omes dari semua teman-temannya. Bahkan dia sering baca novel erotis dan minjam dvd porno. Aigoo. Dong Ryong punya pendengaran yang tajam kalau ada yang mau ngasih makanan rumahan. Pernah sekali ia milih dibuatin ramyeon buatan Jung Bong daripada pesan makanan pesan antar. Dia pernah bilang “makan apa aja yang penting bukan makanan warung.”. Dong Ryong merupakan remaja yang memiliki penyakit wasir. Sumpah kasihan banget. Dia juga pernah dikira menstruasi gara-gara waktu selebrasi, pantatnya berdarah. Dong Ryong ini pernah minggat dari rumahnya karena pada hari ulang tahunnya, ia nggak dibuatin sup rumput laut. Tapi waktu dia kembali ke rumahnya, justru nggak ditanyain sama ayahnya dan malah dikira tidur di rumah temannya atau ruang belajar. Dong Ryong pernah bilang kalau dia nggak pernah bisa tidur nyenyak di rumah gurunya alias rumahnya sendiri. Haha ada-ada aja.
        Yang ke-empat dan ke-lima adalah keluarga Sun Woo dan Choi Taek. Kenapa gue gabungin? Karena pada akhirnya ibu Sun Woo menikah sama beruang, eh sama ayah Choi Taek. Sun Woo ini merupakan anak idaman semua ibu di dunia. Dia pintar, patuh dan tidak bandel. Dia nggak pernah menuntut macam-macam sama orangtuanya. Dia sangat menyayangi ibunya dan Jin Joo, adiknya. Gue suka banget sama Jin Joo karena dia cute banget. Dan terakhir, Choi Taek. Choi Taek adalah pemain baduk termuda yang punya rekor kemenangan luar biasa. Yang dia tau cuma baduk. Dia nggak ngerti yang lainnya. Diantara teman-temannya, Choi Taek ini kayak orang dungu yang bikin ramyeon aja nggak bisa. Kerjaannya ya cuma main baduk aja tiap hari. Choi Taek punya ayah yang memiliki bisnis perhiasan. Jadi beliau jualan perhiasan gitu. Beliau itu orangnya kelewat tenang, tapi aslinya dia juga sama ding kayak bapak-bapak di luar sana.        
          Gue nggak tau kenapa Sung Deok Sun nikahnya sama Choi Taek. Gue mikirnya Deok Sun malah bakal sama Jungpal. Tapi dari episode dimana Choi Taek gendong Deok Sun membuat gue sadar kalau endingnya tuh emang seperti itu.

      Pada akhirnya, celotehan gue yang mengandung spoiler ini berakhir. Gue sangat merekomendasikan drama ini buat ditonton. Gue jadi tau kehidupan 1988 tuh ya kayak gitu. Jadul-jadulnya ya emang kayak gitu. Di tahun ibu gue lahir itu, emang zamannya kayak gitu. Jangan berpikir untuk mendapatkan keluarga yang sempurna, padahal sebenarnya tolak ukur kesempurnaan itu ya kebahagiaan, dan kebahagiaan itu nggak cuma sekadar uang yang banyak. Kebahagiaan itu dimana orang disekeliling lo peduli dan menyayangi elo. Elah gue jadi berasa kayak tim acara bilang putus di teve aja.
Diberdayakan oleh Blogger.