DAMAR
SATRIYA ADINATA.
Namanya tercetak pada gelang pasien yang melingkar di tangan kanannya. Sementara
tangan kirinya tersambung selang infus. Saat pintu dibuka, dari mulut ruangan
sudah terdengar suara monitor yang berdetak. Damar baru saja dipindahkan dari
ruang pemulihan ke Intensive Care Unit
atau ICU. Ruangan yang dipenuhi hilir mudik perawat yang terus-menerus
berkeliaran dengan sibuk. Mereka membaca printout
komputer dan merekam tanda-tanda vital pasien.
Begitu banyak selang yang terpasang
pada tubuh Damar, satu selang dimasukkan ke kerongkongan untuk membantu Damar
bernapas; satu lagi di hidung; satu di nadi; membuat Damar agar cukup cairan;
satu di kantong kemih, untuk mengeluarkan air seni; beberapa di dadanya yang
kini tertutup oleh baju berwarna biru khas rumah sakit, untuk merekam detak
jantung; satu lagi di jari, untuk merekam denyut nadi.
Tara mengusap air mata yang berhasil
lolos dengan punggung tangannya. Tangannya bergetar menyaksikan Damar yang terbujur
diam di atas kasur anti dekubitus. Wajah yang dulu menatapnya, kini dipenuhi
goresan luka. Entah itu luka yang menghantam aspal, pecahan kaca maupun luka
pisau.
Semburat rasa sakit, takut, marah dan
menyesal menyelubungi perasaannya. Menciptakan reaksi rasa terburuk yang pernah
ia alami. Kedua matanya tak mampu lagi menyaksikan sosok yang mendiami hatinya
itu. Ia membenamkan wajahnya sembari menggenggam tangan Damar yang terjulur
bebas. Air mata Tara kian mengalir dengan deras seperti air terjun di musim
hujan. Tangisnya pecah menggema beradu dengan suara mesin pada ruangan itu.
[.]
Alunan musik merambat masuk melalui
kabel pendek yang terhubung ke dalam telinga. Rentetan lagu-lagu dalam daftar
pada ponsel Tara bergilir dimainkan dalam mode shuffle. Mulutnya berkomat-kamit mengikuti setiap lirik yang
terdengar. Ia merapatkan jaketnya untuk menghalangi angin yang mencoba
mencubitnya. Hari ini mendung. Tak ada sapaan hangat di pagi hari, tak ada
langkah kaki yang menemani, tak ada tawa yang bisa dibagi. Tara menghela napas
dalam lalu melangkah dengan cepat menuju kelasnya.
“Ra!” pekik seseorang yang berlari ke
arahnya setelah memakirkan motornya. Tara menghentikan langkahnya lantas
berbalik menuju sumber suara. Damar. Tak diragukan lagi. Ia selalu tampil
dengan seragam yang berantakan. Baju yang dikeluarkan, dasi juga tak dipakai,
tak ada name tag apalagi badge kelas. Bahkan logo OSIS pun tidak
tertempel pada saku seragamnya yang putih.
“Bisa kita ngomong sebentar, Ra?”
“Gue mau masuk kelas, Dam. Bentar lagi
bel,” ucap Tara acuh. Tara berniat melangkah pergi meninggalkannya, namun
kemudian Damar mencengkeram lengannya. Menahan Tara untuk tetap berdiri di
tempatnya berpijak.
“Saya harus jelasin berapa kali sama
kamu? Saya berantem karena sebab. Saya, Ian, dan yang lain bukan berniat jadi
gangster, kita nggak bakal mulai duluan dan kita bakal ngelawan kalau ada
nyakitin orang yang kita sayang. Siapapun orang itu,” jelas Damar masih tidak
melepaskan tangannya pada lengan Tara. Kedua matanya menatap lekat dan lurus ke
arah Tara meskipun angin bertiup kencang hari itu. Meskipun berbagai pasang
kaki berjalan melewati mereka. Berbagai pasang mata mulai menatap mereka
berdua.
“Gue khawatir sama elo, Damar. Gue
nggak pengen lo kenapa-napa.”
Tara melepaskan tangannya lantas
meninggalkan Damar yang tak bergeming di tempatnya berdiri. Kakinya seperti
tertanam di lantai. Seolah akar yang sangat kuat mengikatnya tanpa bisa ia bergerak.
[.]
“Aww!” jeritnya saat sebuah tangan
mencengkeram lengannya dan mulutnya dibekap dengan sapu tangan. Tara berusaha
menjerit sekencang mungkin agar semua orang mendengarnya. Ia terus meronta
untuk dilepaskan. Satu tamparan keras mendarat di pipinya menciptakan cetakan
merah.
“Brengsek!” umpat Damar lalu menendang
dari samping hingga orang yang membekap Tara jatuh tersungkur menghantam aspal.
Damar memukul orang itu tanpa jeda sedikipun. Tak membiarkan orang itu bangkit
atau sekedar bernafas beberapa detik.
Damar menghampiri Tara lantas meneliti
keadaan gadis itu. Ia seperti kesetanan saat melihat tangis Tara pecah.
Dibawanya gadis itu ke dalam pelukannya. Damar merasakan tubuh Tara bergetar.
“Saya minta sekarang kamu pergi dari
sini, Ra. Kamu harus pulang ke rumah. Biar saya yang selesaiin semuanya,” ucap Damar
emosi.
“Nggak, Damar. Lo harus ikut gue
pulang juga.
Damar menyentuh kepala Tara lembut.
Kali ini emosinya tidak stabil. Perasaannya seperti dipermainkan. Antara amarah
dan penyesalan menyelimuti hatinya. Saat Damar akan berucap, tiba-tiba
seseorang datang dengan motornya.
“Kamu ikut Ian sekarang.”
“Tapi, Dam...”
“Saya mohon, Ra. Sekali ini saja
dengarin saya.”
Tara enggan untuk meninggalkan Damar.
Dilihatnya sekali lagi wajah itu. Hingga ia naik ke atas motor Ian, saat itu Damar
menatapnya lekat dengan pandangan nanar. Sorot matanya masih sama seperti tadi.
Menyiratkan luka yang baru saja terkoyak. Saat sosok Tara tak terlihat lagi di
matanya, saat itu juga sebilah pisau menancap pada perutnya. Damar memekik
kesakitan. Darah mengucur dengan derasnya. Aroma amis memenuhi telinganya.
Orang itu berlari ke arah motornya, mengendarai
motornya dengan arah yang sama seperti
arah Tara pergi tadi. Damar berusaha bangkit sambil memegangi perutnya dengan
darah yang membanjiri seragam sekolahnya. Kontras antara warna putih dan merah.
Menciptakan motif baru pada disana. Tak dipedulikan rasa nyeri yang semakin ia
rasakan, tak dipedulikan wajahnya yang semakin memucat.
[.]
Suara mobil-mobil yang mengerem
berdecit di belakangnya. Tara menoleh ke belakang dan menyaksikan dengan mata
kepalanya sendiri, dua motor bertabrakan dan terpental jauh. Salah satu dari
motor itu menghantam truk besar yang terparkir di jalan raya. Menimbulkan bunyi
keprakan yang keras. Dirasanya jantungnya mencelos tiba-tiba. Seperti baru saja
dipotong dari nadinya.
“Ian, berhenti, Ian,” ucap Tara namun Ian
tidak mengindahkan perintah Tara.
Tanpa
terasa air matanya mendadak tumpah. “Ian, berhenti sekarang, Ian! Atau gue
loncat sekarang!”
Motor Ian berhenti. Tanpa mempedulikan
apapun, Tara segera turun dari motor dan berlari ke arah keramaian. Keramaian
yang menyesakkan dadanya. Dari tadi ia dirundung perasaan yang sangat buruk.
Pikirannya selalu berakhir pada Damar. Sedang apa dia? Apa yang dilakukannya
sekarang?. Apakah Damar sudah menunggunya di rumah Tara?. Berbagai pertanyaan itu
akhirnya terbantahkan dengan sosok Damar yang tergeletak lemah di atas aspal dengan
motor disampingnya yang remuk.
Mata Damar terbuka sedikit. Setiap
tarikan napas dilakukan dengan susah payah. Darah mengalir dari mulut dan
hidungnya. Tara memeluk dan menarik Damar ke pangkuannya. Tubuhnya rapuh dan
lemah. Ia bisa merasakan Damar sekarat. Matanya membuka, bergetar. Damar
memandang Tara lekat, mengangkat tangannya, lalu memegang pipi Tara. Begitu Damar
melakukan itu, Tara menangis.
“Gue di sini,” kata Tara bergetar.
Damar berusaha tersenyum.
“Maafin gue, Damar,”
“Ssshh,” katanya. “Bukan salah kamu, Ra.
Jangan nangis, nanti saya sedih.”
“Maafin gue,” kata Tara di antara
isakan tangis.
“Janji sama saya, Ra. Kalau saya
kenapa-napa setelah ini, saya nggak pengen lihat kamu nangis kayak gini.”
Isakan itu justru menjadi semakin
keras.
[.]
Yang dapat Tara lakukan sekarang yaitu
berdoa. Ia berharap banyak pada tangan terampil dokter dan mood baik Tuhan. Ia tak peduli pada perkataan terakhir Damar yang
ia dengar. Baginya takkan terjadi apapun pada Damar. Ia akan menemaninya dengan
guyonan yang selalu menggelitiknya.
Saat ia menatap lekat wajah Damar
untuk pertama kalinya, saat ia menggenggam tangan Damar untuk pertama kalinya,
saat ia benar-benar di samping Damar menemani dirinya untuk pertama kalinya, ia
berfikir untuk tidak akan melewatkan satu hari bersama Damar. Ia tak sanggup
untuk kehilangan Damar. Ia tak akan pernah sanggup. Tara sudah terlanjur
terjebur dalam perasaan yang mengikatnya. Sekali ini, ia tak bisa menyangkalnya
bahwa ia, si gadis kaku itu mencintai Damar.
Saat air matanya nyaris tumpah
kembali, saat itu juga elektrokardiograf berbunyi melengking.
“Damar?”
E
N D