Mereka. [sebuah cerpen]

Ini merupakan cerpen yang pendeknya kebangetan dan mengandung unsur cerita yang sama sekali tidak menarik dan alay. Hanya saja file ini menuh-menuhin kapasitas laptop gue, jadi gue taroh disini buat nyakitin mata kalian yang bakal baca nih cerpen. Hahag jk.




[mereka]


Aku menjulurkan tanganku meraih gelas yang berisi kopi hitam. Aromanya merangsek masuk membawaku kedalam sekelumit kenangan bersama orang-orang yang pernah turut andil dalam hidupku. Mengisi ruang kosong yang penuh dengan sarang laba-laba.
DILAN DALA DANANDYAKSA. Aku tau, namanya sulit untuk dihafalkan. Untuk tipe orang yang susah menghafal nama seperti diriku, nama Damar menjadi di urutan pertama yang kadang membuatku pusing. Pertama kali aku bertemu dengannya pada saat Masa Orientasi Siswa atau biasa disebut MOS. Berbagai atribut konyol harus dikenakan dan tidak boleh tertinggal satupun. Seperti mahkota dari kardus, tas kardus yang dilapisi gambar batik dengan tali punggung dari tali sumbu kompor minyak yang membuat pundakku menjadi kesakitan karena beban dalam kardus bisa dibilang berat. Kadang aku was-was jika kardus tak kuat menopang beban lantas barang bawaanku menjadi jatuh berserakan dimana-mana. Dan hal mengerikan itu terjadi.
Saat bus berhenti di depan sekolah, puluhan siswa bergegas menyelonong keluar dengan membabi buta takut kena hukum dari anak-anak OSIS jika terlambat berbaris. Aku pun ikut bergegas dan tiba-tiba sosok siswa dengan tubuh gempal menyenggolku hingga aku jatuh tersungkur. Tas yang tadinya di punggungku, menjadi terpental jauh dari diriku. Menghamburkan isinya. Makanan, botol air mineral, buku, tempat pensil dan seragam pramuka yang akan digunkan sore nanti tergeletak pasrah di atas batako.
“Aduh!” pekikku ketika menghantam batako. Lututku otomatis tergores lantas darah mengalir membasahi kaos kaki putih. Aku mencoba untuk bangkit, namun pergelangan kaki kananku terkilir.
Aku merutuki diri sendiri dalam hati yang telah bertindak ceroboh dan membiarkan diriku berakhir seperti ini. Tak ada satupun orang yang dengan cepat menolongku. Namun tiba-tiba datang seseorang, yang kemudian untuk pertama kalinya aku mengenal sosoknya.
“Lo nggak pa-pa?” tanyanya sambil meletakkan tas kardusnya. “Yaampun berdarah gini. Bisa jalan nggak?”
“Kaki gue terkilir..,” ucapku pelan.
Dia menatap ke arahku beberapa detik, lalu menggendongku masuk melewati gerbang. Mendudukkan diriku di kursi pendek depan pos satpam. Cowok itu merogoh saku celananya dan mengeluarkan sapu tangan berwarna biru dongker, ia lantas berjongkok di depanku. Bak anak PMR, dia mengelap perlahan darah yang mengalir lalu menempelkan plester pada lututku.
“Udah,” katanya. Dia beralih menatapku. “Coba jalan pelan-pelan, gue yakin ntar sembuh kok.”
“Loh kenapa?”
“Tas gue..,” ucapku lirih, menatap nanar keluar gerbang. Menerawang keadaan tas kardus milikku. Ini sebuah bencana, aku pasti akan di hukum.
Cowok itu bangkit lalu meninggalkanku. Aku menundukkan kepala lalu berdiri, berniat mencari tas kardus. Tiba-tiba cowok itu datang kembali, menenteng tas kardus yang telah rusak dan seragam pramuka yang tadinya terpental jauh dari tas kardus.
“Cuma ini yang bisa gue selamatin.”
Aku menerima dengan raut sedih. “Thanks ya. Sorry sapu tangan lo jadi jelek. Next time gue ganti,” ucapku. Aku tersenyum padanya. Senyum getir.
“Tunggu!”
Aku menoleh dan dia mengeluarkan barang-barang dari tas kardusnya lalu memasukkannya ke dalam kantong kresek berwarna hitam.
“Nih, pake aja.”
“Terus lo gimana?”
Dia tersenyum. Senyum yang sungguh manis. Tanpa mengucapkan kata, ia berlalu begitu saja meninggalkanku yang terbengong dengan dua tas kardus di tanganku.
Saat berada dalam barisan, aku menyaksikan siswa yang di hukum karena perlengkapan yang kurang. Kedua mataku membulat ketika menangkap seseorang yang berdiri di depan. Namanya Dilan, dia yang menolongku tadi pagi. Muncul perasaan tak enak yang menyelubungi.
Sejak saat itu, aku dan Dilan sering bertemu. Dia menjadi satu-satunya orang yang sangat dekat denganku hingga akhirnya hubungan kita tak hanya sekadar teman. Namun lebih dari itu.

[.]

NATHAN ARYA REKSA. Dia pengganti Dilan. Sifatnya berbeda dengan Dilan. Bisa dibilang Dilan anak bandel, dan Nathan tidak. Sebenarnya aku tak suka membandingkan orang. Baiklah aku akan memulai bercerita. Nathan memiliki banyak kesamaan denganku. Mulai dari genre film, genre buku sampai hobi. Tak ayal jika aku dan dia sering bersama untuk membunuh waktu. Nathan cowok yang romantis. Satu hal yang tak pernah luput dari ingatanku adalah saat ia memberikan kejutan ulangtahun. Dia bukan siswa SMA 12, dia tidak satu sekolah denganku. Aku tahu bagaimana teman-teman satu kelasku yang jail dan sulit untuk diajak kerjasama. Meskipun pembawaan Nathan kaku dan ia hanya mengenal Eva, teman satu mejaku, tapi kali ini ia bisa membujuk teman-teman satu kelas—entah bagaimana caranya, tapi sungguh aku sangat terkesan dengan semua itu.
            “Saya hanya bisa memberikan ini di hari spesial kamu, saya juga ingin menitipkan sesuatu yang spesial bagi saya,” ucapnya setelah memberikan satu buket bunga mawar putih kepadaku.
Aku bingung dengan kalimat terakhirnya. Dia senang membuatku penasaran seperti ini, padahal jantungku berdetak dengan kencang dan keras, seperti musik rock yang dimainkan pada saat hening.
            “Saya ingin menitipkan hati saya sama kamu. Tolong jaga baik-baik hati saya, ya. Saya cinta kamu.”

[.]

            suara gemerincing pertanda pintu di buka terdengar nyaring di dalam kedai kopi. Dia datang. Dia yang dulu mendiami hatiku. Dia yang selalu hadir dalam hari-hariku. Dia yang telah mengisi kekosongan dalam hatiku. Dilan Dala Danandyaksa. Ya, Dilan. Aku sudah bisa menghafal namanya sekarang. Dia datang dengan dibalut kaos berwarna putih dan tuxedo, serta satu buket bunga mawar putih. Kali kedua, pada yang sama. Kini, aku kembali pada cinta pertamaku.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.