[mereka]
Aku menjulurkan tanganku meraih gelas
yang berisi kopi hitam. Aromanya merangsek masuk membawaku kedalam sekelumit
kenangan bersama orang-orang yang pernah turut andil dalam hidupku. Mengisi ruang
kosong yang penuh dengan sarang laba-laba.
DILAN DALA DANANDYAKSA. Aku tau, namanya sulit untuk dihafalkan. Untuk tipe
orang yang susah menghafal nama seperti diriku, nama Damar menjadi di urutan
pertama yang kadang membuatku pusing. Pertama kali aku
bertemu dengannya pada saat Masa Orientasi Siswa atau biasa disebut MOS. Berbagai
atribut konyol harus dikenakan dan tidak boleh tertinggal satupun. Seperti
mahkota dari kardus, tas kardus yang dilapisi gambar batik dengan tali punggung
dari tali sumbu kompor minyak yang membuat pundakku menjadi kesakitan karena beban dalam
kardus bisa dibilang berat. Kadang aku was-was jika kardus tak kuat menopang
beban lantas barang bawaanku menjadi jatuh berserakan dimana-mana. Dan hal
mengerikan itu terjadi.
Saat bus berhenti di depan sekolah, puluhan
siswa bergegas menyelonong keluar dengan membabi buta takut kena hukum dari
anak-anak OSIS jika terlambat berbaris. Aku pun ikut bergegas dan tiba-tiba
sosok siswa dengan tubuh gempal menyenggolku hingga aku jatuh tersungkur. Tas
yang tadinya di punggungku, menjadi terpental jauh dari diriku. Menghamburkan
isinya. Makanan, botol air mineral, buku, tempat pensil dan seragam pramuka
yang akan digunkan sore nanti tergeletak pasrah di atas batako.
“Aduh!” pekikku ketika menghantam
batako. Lututku otomatis tergores lantas darah mengalir membasahi kaos kaki
putih. Aku mencoba untuk bangkit, namun pergelangan kaki kananku terkilir.
Aku merutuki diri sendiri dalam hati
yang telah bertindak ceroboh dan membiarkan diriku berakhir seperti ini. Tak
ada satupun orang yang dengan cepat menolongku. Namun tiba-tiba datang seseorang, yang kemudian untuk pertama kalinya aku mengenal sosoknya.
“Lo nggak pa-pa?” tanyanya sambil
meletakkan tas kardusnya. “Yaampun berdarah gini. Bisa jalan nggak?”
“Kaki gue terkilir..,” ucapku pelan.
Dia menatap ke arahku beberapa detik,
lalu menggendongku masuk melewati gerbang. Mendudukkan diriku di kursi pendek depan
pos satpam. Cowok itu merogoh saku
celananya dan mengeluarkan sapu tangan berwarna biru dongker, ia lantas
berjongkok di depanku. Bak anak PMR, dia mengelap perlahan darah yang mengalir
lalu menempelkan plester pada lututku.
“Udah,” katanya. Dia beralih menatapku. “Coba
jalan pelan-pelan, gue yakin ntar sembuh kok.”
“Loh kenapa?”
“Tas gue..,” ucapku lirih, menatap nanar
keluar gerbang. Menerawang keadaan tas kardus milikku. Ini sebuah bencana, aku
pasti akan di hukum.
Cowok
itu bangkit lalu meninggalkanku. Aku menundukkan kepala
lalu berdiri, berniat mencari tas kardus. Tiba-tiba cowok itu datang kembali, menenteng tas kardus yang telah rusak dan
seragam pramuka yang tadinya terpental jauh dari tas kardus.
“Cuma ini yang bisa gue selamatin.”
Aku menerima dengan raut sedih. “Thanks ya. Sorry sapu tangan lo jadi
jelek. Next time gue ganti,” ucapku.
Aku tersenyum padanya. Senyum getir.
“Tunggu!”
Aku menoleh dan dia mengeluarkan
barang-barang dari tas kardusnya lalu memasukkannya ke dalam kantong kresek
berwarna hitam.
“Nih, pake aja.”
“Terus lo gimana?”
Dia tersenyum. Senyum yang sungguh manis.
Tanpa mengucapkan kata, ia berlalu begitu saja meninggalkanku yang terbengong
dengan dua tas kardus di tanganku.
Saat berada dalam barisan, aku
menyaksikan siswa yang di hukum karena perlengkapan yang kurang. Kedua mataku
membulat ketika menangkap seseorang yang berdiri di depan. Namanya Dilan, dia
yang menolongku tadi pagi. Muncul perasaan tak enak yang menyelubungi.
Sejak saat itu, aku dan Dilan sering
bertemu. Dia menjadi satu-satunya orang yang sangat dekat denganku hingga
akhirnya hubungan kita tak hanya sekadar teman. Namun lebih dari itu.
[.]
NATHAN
ARYA REKSA. Dia pengganti Dilan. Sifatnya berbeda dengan
Dilan. Bisa dibilang Dilan anak bandel, dan Nathan tidak. Sebenarnya aku tak
suka membandingkan orang. Baiklah aku akan memulai bercerita. Nathan memiliki banyak
kesamaan denganku. Mulai dari genre
film, genre buku sampai hobi. Tak
ayal jika aku dan dia sering bersama untuk membunuh waktu. Nathan cowok yang romantis. Satu hal yang tak
pernah luput dari ingatanku adalah saat ia memberikan kejutan ulangtahun. Dia
bukan siswa SMA 12, dia tidak satu sekolah denganku. Aku tahu bagaimana
teman-teman satu kelasku yang jail dan sulit untuk diajak kerjasama. Meskipun
pembawaan Nathan kaku dan ia hanya mengenal Eva, teman satu mejaku, tapi kali
ini ia bisa membujuk teman-teman satu kelas—entah bagaimana caranya, tapi
sungguh aku sangat terkesan dengan semua itu.
“Saya
hanya bisa memberikan ini di hari spesial kamu, saya juga ingin menitipkan sesuatu
yang spesial bagi saya,” ucapnya setelah memberikan satu buket bunga mawar
putih kepadaku.
Aku bingung dengan kalimat terakhirnya.
Dia senang membuatku penasaran seperti ini, padahal jantungku berdetak dengan
kencang dan keras, seperti musik rock
yang dimainkan pada saat hening.
“Saya
ingin menitipkan hati saya sama kamu. Tolong jaga baik-baik hati saya, ya. Saya
cinta kamu.”
[.]
suara
gemerincing pertanda pintu di buka terdengar nyaring di dalam kedai kopi. Dia
datang. Dia yang dulu mendiami hatiku. Dia yang selalu hadir dalam hari-hariku.
Dia yang telah mengisi kekosongan dalam hatiku. Dilan Dala Danandyaksa. Ya, Dilan. Aku sudah bisa menghafal
namanya sekarang. Dia datang dengan dibalut kaos berwarna putih dan tuxedo, serta satu buket bunga mawar
putih. Kali kedua, pada yang sama. Kini, aku kembali pada cinta pertamaku.

0 komentar:
Posting Komentar